Bagi korporasi, efisiensi ini sangat menggiurkan karena dapat memangkas biaya operasional hingga lebih dari 70 persen. Namun, bagi konsumen, kehadiran robot penagih ini bisa menjadi mimpi buruk baru yang sangat mengganggu kenyamanan.
Baca Juga :
Ancaman Data Berantakan dan Salah Sasaran
Di balik kecanggihan teknologi ini, terdapat satu celah fatal yang sangat merugikan konsumen, yaitu validitas data. Masalahnya, agen penagih utang AI sangat bergantung pada kualitas data yang mereka terima dari kreditur asal.
Dalam industri keuangan, portofolio utang sering kali dijual dan berpindah tangan dari kreditur asli ke pihak ketiga atau kolektor utang lainnya. Proses transfer informasi ini kerap kali menghasilkan catatan data yang berantakan, tidak lengkap, atau bahkan kedaluwarsa. Akibatnya, sistem AI yang bekerja berdasarkan data mentah tersebut sering kali melakukan kesalahan fatal, seperti:
- Menagih utang yang sebenarnya sudah lunas bertahun-tahun lalu.
- Menghubungi nomor telepon orang yang salah akibat data kontak yang usang.
- Mengintimidasi debitur dengan nominal tagihan yang tidak akurat.
Meskipun debt collector konvensional sering dicap buruk, mereka jauh lebih fleksibel dibanding agen penagih utang AI yang kaku. Manusia masih memiliki empati, mampu mendengarkan keluhan, memahami konteks masalah, serta melakukan negosiasi ulang jika terjadi perselisihan data di lapangan.
Baca Juga :
Pada akhirnya, adopsi agen penagih utang AI masih memerlukan evaluasi mendalam dari pihak regulator keuangan dunia. Tanpa adanya pengawasan ketat dan standarisasi akurasi data, teknologi ini justru berpotensi menjadi alat teror digital yang merugikan hak-hak konsumen secara sepihak.