Opsi kedua yang lebih pahit adalah menghentikan total penjualan produk baru di pasar AS. Pola ini sebelumnya telah terlihat pada raksasa drone DJI, yang juga terpaksa membatasi ruang geraknya akibat kebijakan serupa. Bagi banyak perusahaan, meninggalkan pasar Amerika berarti kehilangan potensi pendapatan miliaran dolar, namun memindahkan pabrik juga bukan perkara mudah di tengah persaingan harga yang ketat.
TP-Link, salah satu pemain raksasa di industri jaringan, telah menyuarakan kekhawatirannya mengenai dampak luas dari regulasi ini. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa hampir seluruh industri router global akan merasakan guncangan hebat. Meskipun TP-Link memiliki basis operasional di AS, sebagian besar proses manufaktur mereka dilakukan di Vietnam, yang kini juga berada di bawah pengawasan ketat regulasi terbaru ini.
Baca Juga :
Perdebatan Mengenai Efektivitas Keamanan Perangkat
Di balik ketegasan FCC, banyak pengamat teknologi yang mulai mempertanyakan efektivitas nyata dari kebijakan larangan impor router AS ini. Berkaca pada kasus serangan Volt Typhoon, target utama peretasan justru seringkali melibatkan perangkat dari perusahaan asal Amerika Serikat sendiri, seperti Cisco dan Netgear. Hal ini membuktikan bahwa kerentanan keamanan tidak selalu berkaitan dengan di mana sebuah perangkat dirakit.
Para ahli berpendapat bahwa kelemahan sistem seringkali muncul karena perangkat yang sudah tua tidak lagi mendapatkan dukungan pembaruan keamanan (patching) dari produsennya. Oleh karena itu, lokasi pabrik dianggap bukan faktor penentu utama dalam mencegah eksploitasi siber. Dukungan perangkat lunak yang berkelanjutan dan sistem enkripsi yang kuat dinilai jauh lebih krusial dibandingkan label "Made in USA" pada fisik perangkat.
Namun, bagi FCC, isu ini bukan sekadar soal teknis pembaruan software, melainkan masalah ketergantungan strategis. Dengan memaksakan produksi lokal, pemerintah AS berharap memiliki kendali lebih besar atas standar keamanan perangkat keras sejak dari tahap desain hingga distribusi. Hal ini dianggap sebagai langkah preventif jangka panjang untuk mengurangi risiko sabotase siber pada tingkat komponen paling dasar.
Baca Juga :
Ke depan, konsumen di Amerika kemungkinan besar harus bersiap menghadapi perubahan pasar yang signifikan. Kelangkaan model terbaru dan potensi kenaikan harga perangkat router menjadi risiko yang nyata akibat tingginya biaya produksi di dalam negeri. Industri teknologi kini tengah menunggu bagaimana para pemain global akan beradaptasi dengan realitas baru di bawah bayang-bayang larangan impor router AS tersebut.